Pages

Selasa, 09 Februari 2016

Nilai Hukum Pidana - Semester III

Finally.. Criminal Law (Hk. Pidana)'s score has announced.
Setelah berjuang di akhir-akhir kesempatan yang ada (saat Final Exam-nya - tanggal 15 Januari 2016), sepenuhnya menguras tenaga dalam berpikir (yaiyalah, soalnya saja kebanyakan tentang mengidentifikasi kasus + alasan dari jawabannya kita itu harus dikaitkan dengan isi KUHP). And then, I got its score that is so satisfactory. Membuat saya menjadi speechless…. Berasa tidak menyangkah.


Tidak menyangkahnya itu, karena saya tahu bahwa basic-ku bukan di situ dan sejujurnya saya kurang percaya diri sendiri dengan jawabanku. Setiap selesai jawab pertanyaannya, pasti selalu bertanya-tanya dalam hati “Ini benar ndak yaaa? Atau bagaimanakah seharusnya? ‘arrrrrggghh’ pusing-----”. Di samping itu juga, saya mengalami tekanan batin saat berlaksananya ujian itu. Gimana ceritanya saya tidak kena tekanan batin, di satu sisi saya harus fokus memikirkan jawabannya, di sisi lain saya harus memperjuangkan kefokusanku dari teman-teman yang duduk di sekitarku (mereka ributnya bukan main.. mempeributkan jawaban masing-masing. Entahlah, mereka sedang saling memberitahu jawaban atau diskusi/memperdebatkan jawaban sendiri) hingga membuatku menjadi geram. Yah, itulah semacam kronologis peristiwanya. hahaha.
Tapi semua karena-Nya... sepenuhnya ini adalah pekerjaan saya sendiri, usaha saya sendiri. Serta ber-tawakkal kepada Allah...... Saya adalah orang yang sangat membenci yang namanya “menConteK”, menanyakan jawaban kepada orang lain, atau mendiskusikan jawaban saat ujian. I think that it’s the Act of a LOSER. Dan perbuatan itu membuat saya malu karena secara tidak langsung telah mempermalukan nama keluargaku sendiri. Seriously..
Intinya, mengerjakannya sendiri dan mempercayakan semuanya kepada Allah dengan mengingat-Nya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Dia yang berkehendak.
Selalu melaksanakan perintah-Nya dengan senang hati dan menghindar dari perbuatan-perbuatan yang dibenci-Nya. Itulah cara kita mencintai-Nya seutuhnya, sama seperti Dia mencintai kita sebagai hamba-Nya. Mencintai kita bahkan saat kita tertidur, Dia senantiasa tersenyum kepada kita.
Jadi, dunia - akhirat harus seimbang. Antara aktivitas kuliah dan ibadah, dan antara segala yang ada di dunia ini (pekerjaan kita yang bersifat dunia) dengan akhirat (kewajiban kita sebagai hamba-Nya).

Note :
(" اَلْحَمْدُلِلّهِ " - Alhamdulillah - is a word that makes me grateful to Allah Subhanahu wa Ta’ala and I'll not stop to say that)

3 komentar:

Imad Fr mengatakan...

luar biasa bu notaris

Khaeranah Rauf mengatakan...

Ibu? -_-' I'm still young, mas bro..
Notaris?? aamiin... Insya Allah..
doakan, pak ketua!!
Salam Sukses~

Imad Fr mengatakan...

boh khae... hehehe

Posting Komentar